Yangsatuini.com | Tahun 2025 dibuka dengan sebuah eksperimen gila dari Netflix. Ketika sebagian besar serial kriminal sibuk dengan plot twist murahan dan cliffhanger yang memaksa kita begadang, Adolescence datang dengan pendekatan yang sama sekali berbeda: realisme mentah yang menyiksa.
Disutradarai oleh Philip Barantini, sosok di balik film Boiling Point yang juga terkenal dengan teknik one-continuous shot-nya, serial ini mencoba menembus batas medium televisi. Tidak ada potongan gambar, tidak ada jeda iklan, dan tidak ada tempat untuk bersembunyi bagi para aktornya. Ekspektasi penonton jelas tinggi, apalagi dengan nama besar Stephen Graham di poster utamanya. Namun, pertanyaannya adalah: apakah teknik kamera tanpa putus ini murni kebutuhan cerita, atau sekadar ajang pamer skill sutradara yang bikin pusing?
Detail Produksi
| Kategori | Keterangan |
| Judul | Adolescence |
| Genre | Crime Drama, Thriller |
| Sutradara | Philip Barantini |
| Pemeran Utama | Stephen Graham, Ashley Walters, Erin Doherty |
| Durasi | 4 Episode (sekitar 60 menit per episode) |
| Platform | Netflix |
| Rating Usia | 18+ (Bahasa kasar, kekerasan intens, penggunaan obat-obatan) |
Premisnya sebenarnya sederhana, bahkan cenderung klise. Seorang remaja laki-laki dari keluarga kelas pekerja dituduh membunuh seorang gadis populer di lingkungannya. Namun, alih-alih fokus pada “siapa pembunuhnya” (whodunnit), kamera justru menempel ketat pada keluarga si remaja—terutama ayahnya (Stephen Graham)—saat dunianya runtuh detik demi detik secara real-time setelah penangkapan tersebut.
Analisis Mendalam: Realisme atau Siksaan?
1. Teknik One-Shot: Imersif tapi Bikin Mual
Harus diakui, keputusan Barantini menggunakan one-shot untuk serial berdurasi total 4 jam adalah langkah berani mati. Efeknya instan: kita sebagai penonton merasa seperti “hantu” yang terjebak di ruangan yang sama dengan karakter. Kita tidak bisa berpaling. Saat karakter panik, kamera ikut berguncang. Saat mereka berlari, kita ikut terengah-engah.
Namun, ini pedang bermata dua. Bagi penonton yang sensitif terhadap gerakan kamera handheld (kamera genggam), serial yang satu ini mungkin akan terasa seperti naik roller coaster tanpa sabuk pengaman. Rasa pusing dan mual sangat mungkin terjadi di episode pertengahan, terutama saat adegan kejar-kejaran di lorong sempit.
2. Stephen Graham Adalah Monster Akting
Jika ada alasan utama untuk menahan rasa pusing Anda, itu adalah Stephen Graham. Tanpa adanya cut (pemotongan adegan), seorang aktor tidak boleh salah dialog sedikit pun selama satu jam penuh. Graham tidak hanya menghafal naskah; dia hidup di dalamnya.
Emosi yang ditampilkan—dari kebingungan, penyangkalan, hingga ledakan amarah seorang ayah yang putus asa—terasa begitu mentah. Anda akan lupa bahwa ini adalah akting. Chemistry-nya dengan Ashley Walters (yang memerankan detektif) juga sangat intens, menciptakan ketegangan yang bisa dipotong dengan pisau.
3. Naskah yang Kadang ‘Keteteran’
Tantangan terbesar teknik real-time adalah mengisi durasi. Dalam kehidupan nyata, tidak setiap detik berisi dialog penting. Akibatnya, ada beberapa momen di mana karakter hanya berjalan, diam, atau mengulang-ulang kalimat yang sama. Di satu sisi ini realistis, tapi di sisi lain, ini bisa terasa membosankan bagi penonton yang terbiasa dengan tempo cepat serial Hollywood. Ada bagian di Episode 2 yang terasa dragging (bertele-tele) hanya untuk menjaga kontinuitas kamera.
Tabel Kelebihan & Kekurangan
| Aspek | Kelebihan | Kekurangan |
| Visual | Teknik one-shot menciptakan ketegangan real-time yang luar biasa. | Kamera goyang (shaky cam) berlebihan bisa memicu motion sickness. |
| Akting | Performa level Oscar dari Stephen Graham & cast lainnya. | Dialog improvisasi kadang terdengar tumpang tindih dan kurang jelas. |
| Audio | Sound design yang bising dan chaotic menambah realisme suasana. | Musik latar minim, murni mengandalkan suara lingkungan (bisa jadi sepi). |
| Plot | Fokus pada dampak psikologis keluarga, bukan sekadar teka-teki kriminal. | Plot misteri utamanya sebenarnya tipis dan mudah ditebak. |
Perbandingan Singkat
Jika dibandingkan dengan Bodyguard (BBC/Netflix), Adolescence jauh lebih artistik namun kurang “pop” dalam hal aksi. Ini lebih mirip menonton teater imersif daripada serial TV biasa.
Namun, jika kamu mencari tontonan yang sama-sama bikin stres tapi dengan format True Crime yang lebih mengerikan karena kisah nyata, kamu mungkin harus melirik kompetitornya di Hulu.
Masih bingung mau nonton fiksi atau kisah nyata? Cek duel mentalnya di sini:
🔗 Perbandingan Series: Adolescence vs Good American Family, Mana yang Lebih Merusak Mental?
Cocok untuk Siapa?
Tonton ini jika:
Kamu pencinta sinema dan teknik pembuatan film.
Fans berat Stephen Graham.
Suka tontonan yang bikin deg-degan dan stres (high anxiety).
Skip ini jika:
Kamu gampang mual lihat kamera goyang.
Cari tontonan santai sambil makan atau main HP.
Berharap plot detektif rumit ala Sherlock.
Ringkasan Review
Nilai Jual Utama: Teknik One-Shot 4 jam penuh dan akting Stephen Graham.
Peringatan: Siapkan obat anti-mabuk perjalanan jika kamu sensitif visual.
Verdict: Eksperimen teknis yang berhasil, meski mengorbankan kenyamanan penonton.
Skema Penilaian
Skor Akhir: 8.4/10
Kesimpulan
Adolescence adalah bukti bahwa Netflix masih berani mengambil risiko kreatif di tahun 2025. Meskipun bukan tontonan yang “menyenangkan” dalam arti konvensional, serial ini menawarkan pengalaman viseral yang akan menempel di kepala Anda berhari-hari. Ini adalah seni yang menyakitkan, tapi layak disaksikan setidaknya sekali seumur hidup.
Disclaimer
Review ini disusun berdasarkan pengalaman menonton pribadi penulis serta referensi dari berbagai sumber kritik film tepercaya. Penilaian bersifat subjektif dan dapat berbeda tergantung selera sinematik masing-masing pengguna.