Yangsatuini.com | Di TikTok 2025, relevansi tidak hanya ditentukan oleh viralitas. Sebagian kreator bertahan lewat massa besar dan konsistensi, sementara yang lain memilih jalur sempit dengan persona unik dan diferensiasi ekstrem. Ria Ricis dan Sisca Kohl mewakili dua pendekatan yang nyaris berlawanan.
Strategi Massa: Konsistensi dan Jangkauan
Ria Ricis mengandalkan basis audiens besar yang dibangun bertahun-tahun. Konsistensi format dan ritme unggahan menjaga hubungan dengan audiens luas. Strategi ini menciptakan stabilitas, bahkan ketika tidak semua konten menjadi pembicaraan.
Massa berfungsi sebagai bantalan. Fluktuasi algoritma terasa lebih lunak karena distribusi awal sudah kuat.
Strategi Persona: Diferensiasi dan Seleksi Audiens
Sisca Kohl memilih jalur berbeda. Frekuensi rendah, ide absurd, dan persona yang sangat spesifik menjadi senjata utama. Ia tidak mengejar semua audiens, tetapi membiarkan audiens yang tepat datang dengan sendirinya.
Strategi ini membuat setiap unggahan terasa seperti peristiwa, bukan rutinitas.
Ketahanan terhadap Perubahan Algoritma
Massa besar cenderung tahan terhadap perubahan kecil, tetapi rawan kejenuhan jangka panjang. Persona unik lebih rentan terhadap perubahan distribusi, namun memiliki loyalitas yang lebih dalam. Di sinilah perbedaan ketahanan muncul.
Yang satu ini memperlihatkan bahwa bertahan tidak selalu berarti tumbuh cepat, tetapi tetap relevan di ceruk yang jelas.
Risiko dan Batasan
Ria Ricis menghadapi risiko stagnasi jika konsistensi tidak diimbangi penyegaran. Sisca Kohl menghadapi risiko ruang gerak sempit akibat persona yang terlalu kuat. Keduanya perlu evolusi, tetapi dengan pendekatan yang sangat berbeda.
Kesimpulan Editor
Tidak ada strategi tunggal yang paling benar. Ria Ricis menunjukkan kekuatan massa dan konsistensi sebagai penopang jangka panjang, sementara Sisca Kohl membuktikan bahwa diferensiasi dan persona bisa menjadi benteng relevansi. Di TikTok 2025, ketahanan ditentukan oleh seberapa jelas kreator memahami posisinya sendiri.