Yangsatuini.com | Ini adalah momen bersejarah atau setidaknya, Netflix ingin kita berpikir begitu. Robert De Niro, sang legenda hidup The Godfather dan Taxi Driver, akhirnya “turun gunung” untuk membintangi serial televisi pertamanya. Dengan premis tentang kiamat siber global (cyber apocalypse), Zero Day terdengar seperti resep sempurna untuk menjadi The next House of Cards.
Ekspektasi publik jelas melambung setinggi langit. Kita mengharapkan intrik politik kelas dewa dan dialog tajam. Tapi setelah menonton 6 episodenya, rasanya seperti habis ikut rapat kabinet selama 6 jam: penuh informasi penting, menegangkan, tapi juga bikin sakit kepala. Apakah nama besar De Niro cukup untuk menyelamatkan naskah yang ambisius ini?
Detail Produksi
| Kategori | Keterangan |
| Judul | Zero Day |
| Genre | Political Thriller, Conspiracy Drama |
| Sutradara | Lesli Linka Glatter |
| Pemeran Utama | Robert De Niro, Angela Bassett, Jesse Plemons, Lizzy Caplan |
| Durasi | 6 Episode (Miniseries) |
| Platform | Netflix |
| Rating Usia | 18+ (Bahasa kasar, tema dewasa) |
Premis Singkat:
Dunia mendadak lumpuh. Serangan siber terkoordinasi mematikan jaringan listrik, sistem perbankan, dan data militer di seluruh dunia. Presiden AS saat ini (Angela Bassett) terpaksa memanggil kembali mantan Presiden George Mullen (De Niro) seorang politisi tua yang licik tapi dihormati untuk memimpin komisi penyelidikan. Masalahnya? Di dunia di mana data bisa dipalsukan, siapa yang bisa dipercaya?
Analisis Mendalam: Konspirasi atau Kebingungan?
1. De Niro Tetaplah De Niro
Mari jujur saja, kita nonton ini karena De Niro. Dan dia tidak mengecewakan. Sebagai George Mullen, dia membawa karisma “orang tua yang sudah muak dengan omong kosong” dengan sangat natural. Dia tidak perlu berteriak untuk mengintimidasi lawan bicaranya; cukup satu angkat alis atau gumaman khasnya, satu ruangan langsung diam.
Chemistry-nya dengan Angela Bassett juga luar biasa. Melihat dua aktor kelas berat ini beradu argumen di Ruang Oval adalah kenikmatan sinematik tersendiri.
2. Plot yang “Over-Cerdas”
Di sinilah masalahnya bermula. Penulis naskah sepertinya terlalu bernafsu memasukkan semua isu modern ke dalam satu keranjang: AI, deepfake, kripto, mata-mata China, ekstremis sayap kanan, sampai drama keluarga disfungsional.
Akibatnya, serial ini terasa “bising”. Terlalu banyak subplot yang berebut perhatian. Alih-alih merasa tegang, penonton kadang malah sibuk mengingat-ingat: “Tunggu, karakter ini tadi siapa? Dia kerja buat siapa?” Kalau kamu main HP sebentar saja, kamu bakal kehilangan benang merahnya.
3. Relevansi yang Menakutkan
Terlepas dari kerumitannya, Zero Day berhasil menyentuh saraf ketakutan kita yang paling relevan saat ini: ketergantungan pada teknologi. Adegan kekacauan saat ATM mati dan lampu padam terasa sangat realistis dan dekat. Ini bukan horor hantu, ini horor logis. Serial yang satu ini sukses bikin kita paranoid untuk menyimpan data penting di cloud.
Tabel Kelebihan & Kekurangan
| Aspek | Kelebihan | Kekurangan |
| Cast | Jajaran pemain A-List (De Niro, Bassett, Plemons) bermain tanpa celah. | Karakter pendukung terlalu banyak dan kurang tergali. |
| Cerita | Konsep “Zero Day” (celah keamanan siber) sangat relevan dan modern. | Alur cerita terlalu padat (bloated) dengan subplot drama keluarga. |
| Dialog | Tajam, cerdas, dan penuh sindiran politik kelas atas. | Kadang terlalu teknis dan berat (exposition heavy). |
| Produksi | Production value tinggi, terasa seperti film bioskop panjang. | Pacing di episode pertengahan terasa lambat. |
Perbandingan Singkat
Zero Day menawarkan ketegangan fiksi politik tingkat tinggi. Namun, jika bicara soal “ketakutan nyata”, ada serial lain di Hulu yang mungkin lebih meneror mentalmu karena diangkat dari kasus kriminal sungguhan.
Sama-sama bikin trust issue, tapi mana yang lebih layak menghabiskan waktu liburanmu? Fiksi De Niro atau fakta Natalia Grace?
Masih bimbang pilih Konspirasi atau True Crime? 🔗 Perbandingan Series: Zero Day vs Good American Family, Mana yang Lebih Merusak Mental?
Cocok untuk Siapa?
Tonton ini jika:
Kamu penggemar berat political thriller.
Suka tontonan yang menantang otak (thinking person’s drama).
Fans garis keras Robert De Niro.
Skip ini jika:
Kamu benci politik dan dialog panjang.
Sedang cari tontonan ringan sebelum tidur.
Gampang bingung dengan istilah teknologi/hacking.
Ringkasan Review
Nilai Jual Utama: Debut De Niro di TV dan jajaran cast bintang lima.
Peringatan Konten: Penuh intrik politik yang mungkin membosankan bagi sebagian orang.
Verdict: Tontonan bergizi tinggi yang agak sulit dicerna, tapi worth it buat ending-nya.
Skema Penilaian
Skor Akhir: 7,9/10
Kesimpulan
Zero Day adalah monster yang megah tapi kikuk. Ia punya semua bahan untuk jadi sempurna—aktor legenda, anggaran besar, isu panas—tapi tersandung oleh ambisinya sendiri untuk menjadi terlalu pintar. Meski begitu, melihat Robert De Niro beraksi di layar kaca adalah peristiwa langka yang sayang untuk dilewatkan, sesulit apa pun plotnya.
Disclaimer
Review ini disusun berdasarkan pengalaman menonton pribadi penulis serta referensi dari berbagai sumber kritik film tepercaya. Penilaian bersifat subjektif dan dapat berbeda tergantung selera sinematik masing-masing pengguna.