Jacob Elordi akhirnya lulus dari peran anak SMA toxic dan masuk ke medan perang. Diadaptasi dari novel pemenang Booker Prize karya Richard Flanagan, The Narrow Road to the Deep North adalah pertaruhan besar Prime Video di tahun 2025 untuk mengejar prestise penghargaan.
Ekspektasi penonton jelas terbelah. Satu kubu datang karena ingin melihat wajah ganteng Elordi, kubu lain datang karena mengharapkan drama perang sekelas Band of Brothers. Namun, hasil akhirnya mungkin akan mengejutkan kedua kubu tersebut. Ini bukan film aksi tembak-tembakan, dan ini bukan drama romantis cengeng biasa. Ini adalah puisi visual yang menyakitkan. Pertanyaannya: apakah Anda tipe penonton yang betah membaca “puisi” selama 5 jam?
Detail Produksi
| Kategori | Keterangan |
| Judul | The Narrow Road to the Deep North |
| Genre | War Drama, Romance, Historical |
| Sutradara | Justin Kurzel |
| Pemeran Utama | Jacob Elordi, Ciarán Hinds, Odessa Young |
| Durasi | 5 Episode (Miniseries) |
| Platform | Prime Video |
| Rating Usia | 18+ (Kekerasan perang, konten seksual) |
Cerita berpusat pada Dorrigo Evans (Elordi), seorang dokter bedah Australia yang menjadi tawanan perang Jepang di jalur kereta api maut Thailand-Burma selama Perang Dunia II. Namun, narasinya tidak berjalan lurus. Kita dilempar bolak-balik antara neraka di kamp tawanan, masa lalu kisah cinta terlarang Dorrigo dengan Amy (Odessa Young), dan masa tua Dorrigo yang dihantui trauma.
Analisis Mendalam: Indah tapi Lambat
1. Visual Kelas Dewa (Cinematography)
Kalau ada satu alasan mutlak untuk menonton serial ini, itu adalah visualnya. Sutradara Justin Kurzel benar-benar memanjakan mata. Kontras warna antara gurun Australia yang gersang nan romantis dengan hutan hujan Thailand yang lembap dan mematikan direkam dengan sangat estetis. Bahkan adegan penyiksaan di kamp tawanan terlihat “cantik” dalam artian yang mengerikan. Jangan nonton ini di HP dengan resolusi rendah; itu penghinaan buat sinematografernya.
2. Jacob Elordi Membungkam Kritik
Banyak yang meragukan kemampuan akting Elordi di luar peran remaja. Namun, di serial yang satu ini, dia membuktikan kelasnya. Dia tidak banyak bicara. Dia berakting lewat rahang yang mengeras, tatapan mata kosong, dan gestur tubuh yang menahan beban fisik serta mental. Transisi emosinya dari seorang kekasih yang dimabuk cinta menjadi pemimpin yang hancur di kamp perang sangat meyakinkan.
3. Alur Maju-Mundur yang Bikin Pusing
Di sinilah letak masalahnya. Serial ini menggunakan struktur narasi non-linear yang agresif. Baru saja kita hanyut dalam adegan romantis di pantai, tiba-tiba cut ke adegan kaki yang diamputasi di hutan, lalu lompat lagi ke masa tua. Buat penonton yang kurang fokus, ini melelahkan. Temponya juga sangat lambat (slow burn). Ada banyak adegan hening panjang yang mungkin membuat penonton kasual tergoda untuk menekan tombol fast-forward.
Tabel Kelebihan & Kekurangan
| Aspek | Kelebihan | Kekurangan |
| Visual | Sinematografi level layar lebar, pencahayaan dan komposisi warna luar biasa. | Terkadang terlalu artistik sehingga mengaburkan realitas perang yang kotor. |
| Akting | Transformasi Jacob Elordi sangat totalitas dan emosional. | Chemistry romantisnya kadang terasa kurang “nendang” dibanding bagian perangnya. |
| Cerita | Mengangkat sisi kemanusiaan dan trauma perang dengan mendalam. | Struktur timeline acak bisa membingungkan dan memutus momentum emosi. |
| Tempo | Memberi ruang bagi penonton untuk merenung. | Sangat lambat. Episode 3 terasa seperti berjalan di tempat. |
Perbandingan Singkat
Dibandingkan dengan Masters of the Air (Apple TV+), serial ini jauh lebih intim dan personal, tapi kalah telak dalam hal skala aksi pertempuran. Ini lebih dekat ke film Atonement versi serial.
Prime Video memang juara kalau soal visual tajam seperti ini. Tapi pertanyaannya, apakah satu serial bagus cukup buat alasan langganan setahun? Bagaimana kalau dibanding koleksi “toko sebelah”?
Cocok untuk Siapa?
Tonton ini jika:
- Kamu menghargai sinematografi indah (Aesthetic Hunter).
- Fans film drama sejarah yang serius dan sedih.
- Ingin melihat Jacob Elordi dalam peran “aktor serius”.
Skip ini jika:
- Kamu mengharapkan film perang penuh ledakan ala Rambo.
- Kamu benci film dengan alur lambat.
- Sedang butuh hiburan yang bikin ketawa.
Ringkasan Review
- Nilai Jual Utama: Wajah Jacob Elordi dan pemandangan alam yang direkam sempurna.
- Peringatan Konten: Adegan penyiksaan fisik dan trauma psikologis yang intens.
- Verdict: Tontonan yang indah secara visual, tapi membutuhkan kesabaran ekstra untuk menyelesaikannya.
Skema Penilaian
Kesimpulan
The Narrow Road to the Deep North adalah karya seni yang menuntut perhatian penuh. Ia tidak peduli apakah Anda terhibur atau tidak; ia hanya ingin Anda merasakan trauma karakternya. Jika Anda sanggup bertahan melewati alurnya yang lambat, ada keindahan tragis yang menanti di garis finis. Namun jika tidak, kemungkinan besar Anda akan tertidur di episode kedua.
Disclaimer
Review ini disusun berdasarkan pengalaman menonton pribadi penulis serta referensi dari berbagai sumber kritik film tepercaya. Penilaian bersifat subjektif dan dapat berbeda tergantung selera sinematik masing-masing pengguna.