Review: Dying for Sex (Hulu): Judulnya Nakal, Isinya Bikin Banjir Air Mata

Wanita menari di taman bunga bergaya seni digital, simbol keindahan dan kebebasan, dengan latar langit berwarna lembut.

Yangsatuini.com | Jika Anda melihat judulnya dan berharap menemukan tontonan “panas” ala Fifty Shades of Grey, Anda salah kamar. Segera tutup tab ini. Tapi, jika Anda mencari cerita tentang manusia yang mencoba menertawakan kematian tepat di depan wajahnya, maka selamat datang.

Diadaptasi dari podcast viral yang memenangkan penghargaan, Dying for Sex adalah serial yang berani, vulgar, dan jujur secara brutal. Dibintangi oleh Michelle Williams, serial ini premisnya terdengar seperti lelucon gelap: Seorang wanita didiagnosis kanker payudara stadium akhir, lalu memutuskan meninggalkan suaminya yang membosankan untuk memulai petualangan seksual dengan orang asing. Terdengar gila? Memang. Tapi di tangan Williams, kegilaan ini berubah menjadi surat cinta paling mengharukan untuk kehidupan.

Detail Produksi

Kategori Keterangan
Judul Dying for Sex
Genre Dramedy (Drama Comedy), Biographical
Sutradara Leslye Headland
Pemeran Utama Michelle Williams, Jenny Slate
Durasi 6 Episode (Miniseries)
Platform Hulu (Disney+ Hotstar)
Rating Usia 21+ (Konten seksual eksplisit, bahasa dewasa, tema kematian)

Cerita berfokus pada Molly (Williams), yang merasa hidupnya selama ini “mati” dalam pernikahan tanpa gairah. Vonis mati dari dokter justru menjadi “izin” baginya untuk benar-benar hidup. Ditemani sahabatnya, Nikki (Jenny Slate), Molly menjalani sisa hidupnya dengan satu aturan: No regrets.

Analisis Mendalam: Lucu, Vulgar, Tragis

1. Komedi di Tengah Tragedi

Kekuatan utama serial yang satu ini adalah kemampuannya menyeimbangkan nada. Satu menit Anda akan tertawa terbahak-bahak melihat kecanggungan kencan Molly dengan pria-pria aneh dari aplikasi kencan, menit berikutnya Anda akan terdiam melihat dia muntah akibat efek samping kemoterapi di toilet klab malam. Penulis naskah tidak berusaha memoles kanker menjadi sesuatu yang “inspiratif” atau “cantik”. Kanker itu jelek, bau, dan menyakitkan, tapi bukan berarti kita tidak boleh menertawakannya.

2. Michelle Williams Layak Dapat Emmy (Lagi)

Peran Molly sangat tricky. Jika salah eksekusi, dia bisa terlihat egois dan narsis. Namun, Michelle Williams memberikan kedalaman yang luar biasa. Dia tidak meminta dikasihani. Dia menunjukkan bahwa hasrat seksual dan rasa takut akan kematian adalah dua hal yang sangat manusiawi. Chemistry-nya dengan Jenny Slate (sebagai sahabat yang suportif tapi juga kewalahan) adalah jantung dari serial ini. Ini adalah definisi friendship goals yang sebenarnya: menemani sahabat melakukan hal bodoh sampai napas terakhir.

3. Bukan untuk Kaum Moralis Kaku

Harus diakui, serial ini sangat terbuka soal seks. Bukan dalam artian pornografi, tapi dalam percakapan yang eksplisit dan situasi yang canggung. Bagi penonton konservatif, keputusan Molly meninggalkan suami di saat sakit mungkin terlihat jahat. Serial ini tidak menghakimi karakternya, ia membiarkan penonton yang bergulat dengan kompas moralnya masing-masing.

Tabel Kelebihan & Kekurangan

Aspek Kelebihan Kekurangan
Emosi Roller coaster emosional: lucu, hangat, lalu menghancurkan hati di ending. Sangat menyedihkan (depressing) bagi mereka yang punya trauma dengan kanker.
Akting Duet Michelle Williams dan Jenny Slate sangat natural dan kuat. Karakter suami/mantan suami mungkin terasa satu dimensi (hanya sebagai antagonis situasi).
Naskah Dialog cerdas, tajam, dan tidak klise. Terasa seperti obrolan nyata. Beberapa sub-plot petualangan seksual terasa repetitif di tengah seri.
Visual Penggunaan warna cerah yang kontras dengan tema kematian.

Perbandingan Singkat

Secara nada, ini mirip Fleabag dicampur The Fault in Our Stars versi dewasa. Lucu, sarkas, tapi sakit.

Jika serial ini terasa terlalu berat atau “terlalu Hulu/Disney” buat seleramu, mungkin kamu lebih cocok dengan variasi tontonan di platform lain. Netflix punya koleksi yang lebih pop, sementara Prime menang di visual.

Cocok untuk Siapa?

Tonton ini jika:

  • Kamu suka Dark Comedy / Dramedy yang cerdas.

  • Menghargai kisah persahabatan wanita yang solid.

  • Sedang butuh catharsis (nangis sepuasnya) untuk menutup tahun.

Skip ini jika:

  • Kamu mencari film “panas” semata.

  • Sensitif dengan topik kanker dan kematian.

  • Mengharap happy ending ala dongeng.

Ringkasan Review

  • Nilai Jual Utama: Eksplorasi berani tentang seksualitas di ujung usia dan akting Michelle Williams.

  • Peringatan Konten: Nuditas, bahasa kasar, tema penyakit terminal.

  • Verdict: Tontonan yang akan membuatmu ingin memeluk sahabatmu dan mensyukuri kesehatanmu.

Skema Penilaian

Skor Akhir: 7.7/10

Kesimpulan

Dying for Sex adalah pengingat yang brutal namun indah bahwa hidup itu singkat. Ia mengajak kita untuk berhenti menunda kebahagiaan, sekecil atau seaneh apa pun bentuknya. Serial ini mungkin akan menghancurkan hati Anda di episode terakhir, tapi perjalanan menuju ke sana sangat layak ditempuh.

Disclaimer

Review ini disusun berdasarkan pengalaman menonton pribadi penulis serta referensi dari berbagai sumber kritik film tepercaya. Penilaian bersifat subjektif dan dapat berbeda tergantung selera sinematik masing-masing pengguna.

Related posts

Review: Good American Family (Hulu): Lebih Seram dari Film Hantu, Karena Ini Nyata

Review: Zero Day (Netflix): De Niro Masih Gahar, Tapi Plotnya Bikin Kepala Mendidih

Review: The Narrow Road to the Deep North: Visual Indah yang Menguji Kesabaran Penonton